Sunday, August 11, 2013

Lemparan pertanyaan

Suara ketukan pintu itu membuatku terjaga dari tidurku, abang yang mengetuknya, mengisyaratkan agar aku segera keluar dari kotak kuning alias kamarku untuk segera mandi sekalian berpamitan untuk shalat idul fitri dan menyuruhku untuk segera mengunci pintu dari dalam agar tak ada orang jahat yang masuk ke rumah (lagi musim pencurian di kampungku ini), tapi aku tak menghiraukan panggilan dan ketukan itu, *maaf ya abang.

Tak lama kemudian ku dengar suara pintu dikunci, seperti biasa, abang mengunci pintu dari luar dan membawa kunci itu bersamanya, tapi dugaanku salah, abang menggeserkan kunci itu ke dalam dari bawah pintu seperti yang biasa dilakukan oleh pak pos apabila tak ada orang yang membukakan pintu untuk mengambil surat serta menanda tangani bukti bahwa surat telah sampai ke tujuan.

At 9.48 ‘Icut May’ meneleponku untuk mengajak bersilaturrahmi ke rumah tetangga berhubung ini lebaran pertama, Icut itu tetanggaku, kisah hidupku tak jauh berbeda dengannya, tak bisa kujelaskan tentang itu di sini. Beberapa saat setelah ia meneleponku, suddenly, dia nyamperin aku ke rumah, kelamaan nunggu kali ya?, J. Aku menyuruhnya masuk tapi dianya malah masuk lewat pintu depan, dan ternyata aku baru ingat kalau kunci pintu depan nyangkut di gantungan kunci motor, karena pernah ketinggalan di pantai karena ulahku tapi aku menemukannya lagi, berusaha untuk ga ceroboh lagi, dan akhirnya aku menyuruhnya masuk lewat pintu samping tadi, untung ada kunci, kalau ga, aku ga bisa ngebayangin deh aku harus nungguin abangku shalat id sampe kelar, udah kaya di penjara aja kan?.

Selesai menyetrika jilbab hijauku, aku langsung mengenakannya. Pintu samping sudah terkunci, aku dan Icut pun berjalan menyusuri jalan hitam yang panjang dan hanya menjumpai satu belokan. Kami pun sampai, di depan rumah itu kami sudah disambut oleh seorang nenek yang sudah sangat tua, tapi beliau masih sangat kuat. Di dalam rumah ada seorang cucu dari nenek tadi, she is a lecturer at the faculty of law. Kami pun bersalaman, beliau tak menyadari kehadiranku sebelumnya, mungkin dipikirannya aku ini temannya Icut, tak lama dari itu ‘Nailul lagoe, pikee soe bunoe’, aku hanya tersenyum melihatnya, ‘pajan kawoe kenoe?’, ‘ka sibeleun inoe’, banyak pertanyaan yang mereka lemparkan kepadaku, example: ko di sini? Ga kuliah selama Ramadhan? Tinggal dimana? Rame anak Aceh di sana? Berapa tahun lagi kuliahnya? Jurusan apa? Beasiswa ya? Pulang sama siapa kemarin? Berani juga ya pulang sendiri? Pulang kemarin naik apa? Aku tak mengingat semua pertanyaannya secara detail.

Ketika sang cucu tadi ke dapur untuk membuatkan minum, aku bertanya pada Icut ‘ga ada alat penimbang berat badan ya?’, sambil menyapukan pandangan ke sekeliling sudut ruangan yang ada, dulu ketika masih kecil aku sering di ajak oleh orang tuaku baik abi, umi, dan nenek ke rumah ini, setiap kali aku ke sini aku pasti mencari cari benda itu, tapi itu dulu, sekarang benda itu sudah tak ada. Aku juga sempat kaget ketika sang cucu mengatakan ‘maken rayeuk maken mirip kak loh’, ‘kak loh’ panggilan untuk almarhumah umiku, itu hampir sembilan tahun yang lalu, tapi ingatanku masih sangat tajam terhadapnya.

Berbeda dengan tahun kemaren, yang juga melemparkan pertanyaan, udah kuliah? Dengan tegas aku menjawab ‘belum’, sekolah di mana sekarang? Rencananya mau lanjutin kuliah ke mana? Entahlah, kalau pun aku masih di beri kesempatan untuk menunaikan lebaran tahun depan aku ga tau apakah aku akan di beri pertanyaan yang serupa atau tidak, aku juga ga tau apakah aku masih di beri kesempatan menunaikan idul adha tahun ini atau tidak, kalaupun aku di beri kesempatan mungkin aku akan berlebaran di perantauanku sama halnya seperti yang terjadi tahun 2012 sebelumnya, mengingat liburan kuliah yang hanya di beri beberapa hari saja.

Banda Aceh, 08 August 2013
At 23:27

Wednesday, August 7, 2013

Alhamdulillah hirabbil alamin, ga nyangka udah Ramadhan ke-29 aja, dan pukulan bedug sore tadi mengakhiri Ramadhan tahun ini. Sedih rasanya meninggalkan bulan yang berkah ini, mungkin karena aku ga bisa menyelesaikan bacaan Alquran ku hingga tamat sebelum Idul Fitri itu menghampiri. Terjadi penurunan dalam hal ibadah pada diriku, selama di perantauan tak pernah sekalipun aku mengkhatamkan Alquran, biasanya kalau di rumah minimal 2 kali aku bisa mengkhatamnya selama setahun, tapi tidak dengan tahun ini. Doakan aku agar bisa mengkhatam walau Ramadhan sudah berlalu dan gema takbir sudah dikumandangkan, semoga tak menghalangi niat ku untuk menyelesaikan secepatnya.

Banda Aceh, 08 August 2013

2:36 am