Sunday, September 21, 2014

I’m on My Way

Pesawat landed dan itu artinya aku telah tiba di Jakarta. Cuaca di langit kota yang aku pijaki sekarang sangat panas, jauh berbeda dengan kota yang baru saja aku tinggalkan, hujan yang membuat delay dari jadwal yang sudah dijanjikan.
Pintu dibuka oleh awak kabin, penumpang segera keluar dari dalam pesawat. Tak butuh waktu lama, aku bangun dari tempat dudukku sambil membawa satu tas yang dari tadi berada dipangkuanku, takut tak bisa aku jangkau ketika akan meninggalkan pesawat adalah salah satu alasan aku tak menyimpannya di bagasi kabin atas dan memilih meletakkannya di bawah tempat dudukku, aku melihat seorang mba yang melakukan hal yang sama di penerbangan sebelumnya.
Masuk ke gedung Soekarno Hatta airport aku langsung menuju ke tempat pengambilan bagasi, sambil menunggu koper di conveyor bagasi, aku memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang berada tepat di sebelahku. ‘Dari mana bang?’, ‘dari Banda Aceh’ jawabnya. Berarti aku ga salah, dari kota yang sama dan pastinya koperku ada di sini. Masih muda, kira-kira 2 tahun lebih muda dariku, hanya perkiraanku saja. Seingatku tujuannya ke Jakarta selatan. Dia juga menanyakan tujuanku, dan aku menjawab ‘Bogor’.
Keluar dari gedung airport aku langsung menuju ke tempat pembelian tiket damri. Bogor Rp. 45.000. Lama menunggu damri dengan tujuanku, aku memutuskan duduk untuk menghilangkan lelah. Dari tadi damri yang lewat dengan jurusan Rawamangun, Blok M, Gambir, Bekasi, Lebak Bulus, bahkan Bandung pun ada, tapi damri ke Bogor tidak kunjung datang.
‘Pak, Bogor udah lewat belum?’ tanya seorang calon penumpang.
‘Bogor, Bogor ada di belakang’. Jawab petugas damri
Calon penumpang Bogor pun bersiap-siap, yang tadinya duduk dengan santai, langsung berdiri dan tergopoh-gopoh dengan bawaannya, takut kelebihan muatan damri dan harus menunggu damri berikutnya itu sesuatu yang membosankan. Damri tiba, semua calon penumpang berebut naik. Kakiku sudah melangkah ke satu anak tangga damri tersebut, tapi ku urungkan niatku, setelah petugas mengatakan ‘hanya tinggal beberapa kursi lagi yang kosong, di belakang masih ada satu lagi damri yang ke Bogor’. Tak berapa lama damri Bogor tiba, aku buru-buru dan mengangkat koperku ke Bagasi bawah damri. Aku harus berangkat sekarang, takut kemalaman nyampe di Bogor. Aku memilih duduk dekat jendela sebelah kanan dan langsung mengaktifkan mobile network ku, banyak teman yang mendoakan perjalananku baik via facebook, BBM, maupun pesan singkat.
Suddenly, ada seorang Om dengan kaca mata hitamnya izin untuk duduk di sebelahku, aku langsung mempersilahkannya. Aku tak begitu menikmati perjalanan Jakarta – Bogor, hanyut dengan doa dari abang, kakak, dan sahabat-sahabatku lewat dunia maya.
Furqan menelepon, menanyakan keberadaanku, padahal aku baru saja meninggalkan airport, masih sekitar dua jam lagi perjalananku. Tak lama setelah mematikan handphone, om yang dari tadi di sebelahku mengajak ngobrol.
‘Mau ke mana?’ tanya beliau
‘Bogor pak, bapak ke mana?’ tanyaku balik
‘Bogor juga, kuliah atau apa?’
‘Kuliah pak, bapak?
‘Ada kegiatan di Bogor’.
‘Dinas?’, tanyaku lagi.
‘Ia’.
Beliau pikir aku kuliah di IPB, wajar koq, di Bogor kan kampus IPB yang banyak dikenal orang, mungkin karena aku kuliah di kampus swasta jadi banyak orang yang belum tau, tapi aku tetap bangga dengan kampusku ini.
‘saya bukan di IPB pak, sekolah tinggi, dekat IPB juga’.
‘saya baru tau kalau di Bogor ada kampus bagus seperti IPB, tau gitu, saya suruh anak saya kuliah di situ, biar sekalian dijengukin berhubung akhir-akhir ini saya sering dinas di Bogor’.
Beliau membaca status ku mungkin yang membuat Om tersebut mengajakku makan, tadinya mau makan di Botani Square Mall, tau sendiri kan, Botani itu one of the big mall in Bogor, dan harganya pasti ‘gila’, aku juga merasa ga enak sama beliau.
Selama di perjalanan, kami banyak bercerita satu sama lain, mulai dari awal beliau merantau ke Kalimantan sampai cerita ku anak korban tsunami Aceh 2004.
Tamat SMA beliau langsung meninggalkan kota asalnya Cirebon. Anaknya yang pertama baru tahun ini masuk kuliah di jurusan Management di salah satu Universitas yang masih di Kalimantan juga, tadinya juga ada ikut test di UGM tapi ga lolos. Anaknya yang ke dua tahun depan masuk kuliah, cewe, Alhamdulillah berjilbab, lagi cari beasiswa dan Alhamdulillah selalu dapat peringkat 1 di sekolahnya, istrinya di Kalimantan yang sebelumnya bekerja di bank konvensional pindah ke bank syariah, tapi sekarang udah pindah kerja.
“Padahal dulu saya tamatan SMA, jadi apa yang dipelajari sama anak sekarang saya ga tau apa apa”. Aku beliau
“Pokoknya, yang penting sekolah aja”, tambahku,
“Ya, yang penting sekolah aja”, mengulang ucapanku.
“Calon pengusaha dong anaknya Pak”. Tambahku
“Amin”.
Aku juga ditawarin magang, temen beliau ada di Bank Muamalat, Omnya juga akan menghubungi temennya untuk kelanjutan magangku. Aku juga sempat ditawari permen, aku ambil, beliau kira aku belum mengambilnya, padahal aku udah mengambilnya, aku takut, takut seperti orang-orang yang dihipnotis, ku gigit sedikit permen yang beliau beri, takut dengan sesuatu hal buruk yang akan terjadi setelah permen itu masuk ke mulutku, tapi ternyata, tak ada efek buruk terhadap diriku.
Furqan menelepon menanyakan posisiku lagi. Omnya nanya, “udah punya temen cowo?”
“Bukan pak, temen yang jemput”, jawabku
“Umurnya sekarang berapa?”, tanya beliau lagi
“20 Pak, udah tua”,
“wajar koq”.
Aku bingung, wajar apanya ya???
Entahlah, pokoknya thanks buat Soto gratisnya Om.
Bogor, 14 September 2014
Saturday at 9:57 PM