Monday, September 12, 2016

10 Dzulhijjah

Hi guys....
Udah lama nih ninggalin blog karena sibuk sama urusan kampus, lebih tepatnya skripsi dan sampe lupa gimana cara nulis yang nyantai, kalo nulis skripsi mah tegang terus.
Alhamdulillah akhir bulan lalu tepatnya Jum’at, 26 Agustus 2016, aku dinyatakan lulus dalam sidang skripsi. Lega rasanya ketika satu kewajiban berhasil aku selesaikan.
Empat tahun kuliah, lima Idul Adha 2012-2016 tak bersama keluarga.
Hari ini tepat lebaran Idul Adha ke lima di perantauan, ga banyak perbedaan hari lebaran dan hari biasa, ya palingan shalat Idul Adha, rutinitas kembali normal setelah bubaran shalat Idul Adha. Pagi tadi, setelah selesai  shalat, aku dan Zira keluar untuk membeli sarapan yang kebetulan ga nyiapin stock makanan, ternyata banyak warung yang ga buka, tapi di ujung jalan ada satu warung yang buka, berhubung ini lagi lebaran pengennya makan lontong karena biasanya makan lontong gratis, ternyata lontongnya habis guys, sedih ga sih? dan nasi uduk jadi menu sarapan pagi yang berkah ini.
Ngomongin Idul Adha, yang bertepatan dengan 10 Dzulhijjah ternyata bersamaan dengan milad ku menurut kalender Hijriyah.
Aku lahir pada tahun 1414, yang berarti umurku 23 tahun hari ini.
Doa ku, semoga di umur yang baru ini aku tetap diberi keberkahan umur oleh Allah, dilancarkan segala urusan dan tetap dalam lindungan Nya, amiin.

Bukit Az Zikra, Sentul City
12 September 2016 / 10 Dzulhijjah 1437

Monday, October 5, 2015

Review

Review journal oleh bu Ela
baru nerima email hari ini Senin 05 Oktober 2015, hari Rabu nanti udah ngumpulin Bab I.

Tuesday, September 1, 2015

Failure last day

Info: Hari ini ga jadi masuk kata ka Nesya, nanti bakal di email tugas valuasi saham dan pembagiannya, bukan hari ini aja, tapi minggu ini, sorry *bang Jo 08.57
Waduh, trs ga jadi terakhir dong *Asyhar 09.04
Ahh
Kenapa baru kasih tau sekarang sih?, jerit ku dalam hati
Pagi tadi setelah solat Subuh aku langsung membuka Asus ku dan melanjutkan tugas magang yang belum sempat ku selesaikan semalam karena ketiduran, harap-harap cemas takut tidak punya waktu lagi, karena harus mengemail lagi ke bang Jo yang mengkoordinir yang kami juluki ketua magang dan paket internet hanya bisa ku gunakan sampai jam delapan pagi. Aku lihat WA dari Hani yang katanya telah mengirim tugasnya untuk check ulang, aku langsung membuka email dari Hani, sedikit mengedit tugas yang aku kerjakan sendiri dan ku selesaikan tugas resume yang satunya di ppt.
Shofi berangkat dijemput Hamas, motornya ditinggal di rumah Hamas. Bunda yang hari ini pindahan yang sebelumnya batal pindah karena orang yang menawarkan rumah ke Bunda meninggal dunia. Sekitar dua minggu yang lalu di hari Senin, sehari sebelum aku ke Bloomberg. Bunda mengangkat barang ke taxi dibantu oleh pak taxi, setelah menutup pintu dan sebelum jalan ia memanggilku dari luar.
“Naayy.”
“Yaa.” aku menyahut dari dalam kamar
“Jalan yaa.”
“Yaa.”
Tak lama dari itu ku turunkan motor dari kontrakanku yang tanahnya sedikit mendaki. Sebelum aku memarkir motor di Bellanova mall aku mampir ke kampus dulu untuk mengambil plakat. Keluar dari ruang akademik aku duduk sebentar di kursi tunggu dan mengabari anak-anak kalau plakat sudah aku ambil, tiba-tiba salah satu dosen ikut duduk di kursi tunggu akademik, basa-basi menanyakan semester berapa. tak lama dari itu aku langsung pamitan.
Setelah memarkir motor di mall yang tak jauh dari kampus, aku langsung ke pos polisi yang dijadikan halte oleh petugas dan calon penumpang APTB Sentul. Bahagia melihat APTB jurusan Grogol mendekat, ini kali pertamaku menaiki jurusan Grogol selama hampir sebulan lebih PP Sentul-Jakarta yang artinya aku tidak perlu transit di halte Cawang UKI. Aku tidak kebagian kursi karena kebanyakan penumpang, sebelum masuk tol aku lebih memilih tetap berdiri, berharap si petugas memberi koran untuk ku jadikan alas duduk di lesehan, seperti petugas APTB yang lain yang memberi service di perjalanan sebelumnya. Tak lama setelah masuk jalan tol, seorang mba yang duduk di lesehan membagi korannya pada ku untuk dijadikan alas duduk. Aku membuka WA dan baru tau kalau last day magang yang ditunggu-tunggu ternyata batal karena pihak perusahaan sedang kedatangan pihak OJK untuk proses audit.
***
Setelah membaca WA dari group magang aku bingung harus ngapain, sedangkan APTB yang ku naiki terus berjalan yang akan membawa ku ke Grogol. Andai saja saat itu aku bisa berteriak sambil bilang ‘stop, kiri pak’ pasti aku akan jadi pusat perhatian di dalam APTB, emangnya ini angkot yang bisa berhenti di mana dan semaunya aja, kalaupun bus ini berhenti belum tentu juga aku bisa menemukan bus pengganti yang akan mengantarku balik ke Sentul.
Bus terus berjalan, aku ingin memastikan apakah bus ini akan melewati halte Semanggi atau tidak, ku lihat mba yang di sampingku, sepertinya si mba itu tertidur, pandanganku turun ke tangannya yang di sembunyikan di balik tasnya, ternyata dia sedang bertasbih dengan tasbih digital sambil memejamkan matanya. Ku urungkan niat untuk bertanya.
Aku terus berpikir keras, aku bisa saja turun di halte UKI dan menunggu bus lain yang akan ke Sentul, itu berarti aku menghabiskan 32k PP Sentul-UKI tanpa mengunjungi satu tempat pun, kalaupun aku pulang tak ada yang bisa aku lakukan di kontrakan. Tiba-tiba mba yang di samping ku tadi membuka tasnya, ini kesempatanku untuk bertanya.
“Mba, bus ini nyampe ke Semanggi?”
“Ga tau, aku sih turun di UKI”
Aku masih berpikir keras, co driver memberitahu kepada penumpang yang akan turun di UKI untuk bersiap-siap, aku pun berdiri dari lesehan, bukan ikut turun seperti sebagian penumpang yang lain tapi aku memilih mencari kursi yang kosong ditinggal penumpang yang turun dan tetap melanjutkan perjalananku, aku menanyakan lagi ke penumpang lain di sebelahku, dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dan tetap dengan jawaban yang sama ‘ga tau’.
Aku mendengar co driver menyebutkan tujuan bus ini ketika sampai di halte UKI, mungkin ada penumpang di halte yang terburu-buru dan memilih menggunakan bus yang sama denganku dari pada harus menunggu TransJakarta yang masih terjebak macet entah di mana, saat itu co driver menyebut Semanggi salah satu halte yang akan dilewati, itu membuatku bertambah yakin. Aku memutuskan untuk ke Istiqlal.
Halte Semanggi jadi halte transit pertamaku, aku langsung menelusuri halte yang panjangnya Subhanallah menuju halte Bendungan Hilir. Sebelumnya aku nanya dulu ke petugas busway, aku melangkahkan kaki ku ke dalam busway setelah mendengar dari petugas kalau mau ke halte Juanda transit di Harmoni, sesampainya di Harmoni aku langsung mengantre di pintu tujuan Blok M, busway jalan tetapi aku tidak melihat kalau bus ini akan melewati halte Juanda, aku memutuskan untuk turun di halte Monas. Di halte Monas aku celingak-celinguk melihat peta busway, aku ingin bertanya pada orang yang juga menggunakan seragam, tapi agak aneh karena mereka sedang membersihkan kaca halte, aku kembali mengurungkan untuk bertanya.
“Mau ke mana mba?” Tanya petugas yang lain dengan seragam busway yang benar.
“Juanda” jawabku
Sang petugas langsung memintaku untuk melanjutkan perjalanan dan transit di Harmoni. Oh my God, aku seperti sedang menertawakan diri sendiri yang dari tadi bolak-balik Harmoni. Lagi-lagi aku transit di Harmoni, aku melihat penumpang lain yang mungkin juga kebingungan seperti ku yang tidak tau arah tujuannya dengan melihat peta, aku pun ikut mendekati peta, tapi aku tidak bisa melihat karena tulisannya kecil sekali seperti semut. Aku meninggalkan peta dan bertanya ke petugas yang sedang duduk di meja kerjanya. Aku menemukan arah, ujung sebelah kanan pintu ke PGC, busway ini yang mengantarkan aku ke Juanda.
Keluar dari halte Juanda aku memasuki gerbang Istiqlal, aku membeli dua potong roti untuk mengganjal perutku di pedagang kaki lima tidak jauh dari gerbang.
Hari ini aku menyempatkan solat Zuhur di Istiqlal shaf pertama, Tuhan punya rencana yang lebih indah di balik batalnya pertemuan magang terakhirku.

Kuningan, Jamsostek Gatot Subroto, Lipi, Sentul City
25 Agustus 2015

Thursday, July 2, 2015

Sugar

Oh my God
I don’t know, belakangan aku sering berdebat sama Bunda. Setelah salat Isya tadi kami baru saja berdebat panjang hanya karena masalah ‘gula’ yang mau ku campur ke air teh.
A: “gula mana Bun?”
B: “tu di keranjang”
Ketika aku mau menyendok gula, Bunda merampas gula yang masih dengan bungkusannya dari genggamanku.
B: “no no no, bukan begini caranya”
Aku hanya terdiam dan sendok gula yang tadi masih di tangan. Bunda memulai dan Aku berusaha mendengar omelannya. Tangannya terus bekerja merebus air dengan pemanas air listrik kesayangannya itu, masih tetap dengan omelannya. Kali ini Ia tidak mengeluarkan kalimat andalannya ‘gini gini Bunda punya basic nurse jadi semua yang berhubungan dengan kesehatan harus steril’.
B: “Nay, kamu ga tau kan, gula itu masih ada bacterinya, proses pembentukan gula jadi kotak kotak kecil gini kan di injak pake kaki waktu masih di pabrik. Setelah melewati proses penghalusan, gula itu dijemur dengan alasan untuk menghilangkan bacteri.”
Aku membatin, “Oh my God. Sekarangkan udah 2015 Bun! Semua pekerjaan menggunakan mesin dan ga pake kaki seperti jaman dulu karena kekurangan fasilitas dan dana untuk segala hal bentuk produksi.” Ini bentuk penolakanku terhadap alasan yang Bunda lontarkan tadi.
A: “ya udah, Nay ga jadi minum teh manis, ga usah direbus lagi airnya Bun.”
B: “Nay gitu deh, ambekan. Bunda kan mau ngajarin kamu dan buat kebaikan kamu juga. Kamu mah ga mau dengerin kalo diajarin, kalo kamu ga mau biar Bunda aja yang minum”
A: “bukan gitu Bun, Nay ga jadi minum teh manis sekarang, tapi next nay pake cara Bunda How to make tea.”
Air yang tadi direbus sudah mendidih dan dituangkan ke dalam gelas berisi gula, kata Bunda sih air yang baru mendidih itu bisa menghilangkan bacteri, tapi kan air yang ku seduh tadi masih hangat, apa itu tidak cukup untuk membunuh bacteri?
Aku tetap meminum seduhan teh hangat tanpa gula itu.
Tak lagi terdengar percakapan di antara kami, hanya terdengar dengungan dua kipas angin di dalam kost baru ku ini. Kost dengan down payment 250K di tanggal 27 Juni 2015.
Aku memecahkan kesunyian kamar kost saat Aku meminta digeserkan terminal untuk men-charge notebook ku yang bocor dan fokus dengan tulisanku ini.
Thanks for caring about me, Bun.
2 Juli 2015
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Friday, May 22, 2015

Dilema Magang

Ada apa dengan angka 21 kali ini?
Sinar Mentari menembus kain penutup jendela kamar kontrakanku. Dering handphone memaksaku bergerak dan melirik layar handphone, incoming call from ‘Daddy’, sadar kalau hari ini aku harus memberikan jawaban tentang program magang yang akan aku ikuti di pertengahan Ramadhan nanti, tapi aku belum yakin dengan keputusan ku, takut salah langkah yang nanti akan berpengaruh ke nilai mata kuliah. Aku merasa berdosa banget karena mengabaikan panggilan dari Abi, Sorry Dad!
Juni 2014, Abi mengajakku ke kota Delhi Van Java untuk suatu kegiatan. Aku yang senang diajak jalan ke manapun tentu akan mengiyakan, apalagi waktu itu bersama Abi, tentu aku tidak mengeluarkan Budget 1 Rupiah pun, tapi resiko nya aku harus meninggalkan beberapa kelas selama aku di Tasik. Singkat cerita, aku diajak ke salah satu BMT yang ada di sana dan kepala BMT menawarkanku untuk magang, hati kecilku berkata ‘celah magang ku sudah mulai tampak, tapi ini bukan menjadi targetku sekarang’, at least ini bisa menjadi cadangan magangku nanti.
18 Mei lalu aku dapat berita bahwa kami yang mengajukan permohonan magang ke DJP ditolak. Kecewa ya pasti ada tapi tetap Alhamdulillah, mungkin menurut Tuhan ini yang terbaik untukku dan teman-teman. Ini mungkin yang namanya perjuangan mencari kerja, dan sekarang aku berada di posisi seorang pencari kerja. Di posisi ku yang sekarang masih dianggap kecil yang hanya mengandalkan surat pengantar magang dari kampus, tapi mereka yang di luar sana akan mempertimbangkan karyawan dengan CV yang bagus dan experienced.
Hari ini 21 Mei 2015, di pagi pertambahan usia, aku sudah mengecewakan Abi, karena belum juga memberi kepastian tentang magangku yang hanya tersisa satu bulan lagi. Aku tau maksud Abi baik, beliau memaksaku untuk segera bertindak agar nantinya tidak membuang waktu dan depresi mencari tempat magang ketika jadwalnya tiba, dan Abi akan mempersiapkan semua tentang kebutuhanku, mulai dari kostan ku nanti sampai biaya-biaya yang akan aku keluarkan. Sebenarnya Abi sudah mencarikan kostan di Rawamangun melalui temannya jika aku magang di DJP nanti, itu salah satu usaha Abiku dalam membantu proses magangku, dan kenyataannya sekarang Aku tidak diterima di Kantor Pajak yang ku impikan selama ini.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aku menyambut 21 Mei dengan bahagia, tapi kali ini aku merasa ada suatu beban yang berat sedang ku pikul dan membuat air mataku keluar dari bendungannya, oh Tuhan, mungkin dosa ku sudah terlalu banyak yang membuatku sulit mendapatkan apa yang ku inginkan.
I am grateful to God for the gift of life, I am void without him. Also thankful to my earthly parents for nurturing me into the graceful, lovely and great woman I am today.
I wish, 20 tahun sebelumnya yang telah aku lewati menjadi pelajaran hidup yang akan memperbaiki langkah ku di sisa umurku, dan semoga Engkau meridhoi apa yang akan aku kerjakan ya Rabb, karena apapun yang aku lakukan tanpa ridhomu hanya akan sia-sia kulakukan.
Grand Sentul City
w. 21, May 21, 2015
21:21 WIB

Sunday, September 21, 2014

I’m on My Way

Pesawat landed dan itu artinya aku telah tiba di Jakarta. Cuaca di langit kota yang aku pijaki sekarang sangat panas, jauh berbeda dengan kota yang baru saja aku tinggalkan, hujan yang membuat delay dari jadwal yang sudah dijanjikan.
Pintu dibuka oleh awak kabin, penumpang segera keluar dari dalam pesawat. Tak butuh waktu lama, aku bangun dari tempat dudukku sambil membawa satu tas yang dari tadi berada dipangkuanku, takut tak bisa aku jangkau ketika akan meninggalkan pesawat adalah salah satu alasan aku tak menyimpannya di bagasi kabin atas dan memilih meletakkannya di bawah tempat dudukku, aku melihat seorang mba yang melakukan hal yang sama di penerbangan sebelumnya.
Masuk ke gedung Soekarno Hatta airport aku langsung menuju ke tempat pengambilan bagasi, sambil menunggu koper di conveyor bagasi, aku memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang berada tepat di sebelahku. ‘Dari mana bang?’, ‘dari Banda Aceh’ jawabnya. Berarti aku ga salah, dari kota yang sama dan pastinya koperku ada di sini. Masih muda, kira-kira 2 tahun lebih muda dariku, hanya perkiraanku saja. Seingatku tujuannya ke Jakarta selatan. Dia juga menanyakan tujuanku, dan aku menjawab ‘Bogor’.
Keluar dari gedung airport aku langsung menuju ke tempat pembelian tiket damri. Bogor Rp. 45.000. Lama menunggu damri dengan tujuanku, aku memutuskan duduk untuk menghilangkan lelah. Dari tadi damri yang lewat dengan jurusan Rawamangun, Blok M, Gambir, Bekasi, Lebak Bulus, bahkan Bandung pun ada, tapi damri ke Bogor tidak kunjung datang.
‘Pak, Bogor udah lewat belum?’ tanya seorang calon penumpang.
‘Bogor, Bogor ada di belakang’. Jawab petugas damri
Calon penumpang Bogor pun bersiap-siap, yang tadinya duduk dengan santai, langsung berdiri dan tergopoh-gopoh dengan bawaannya, takut kelebihan muatan damri dan harus menunggu damri berikutnya itu sesuatu yang membosankan. Damri tiba, semua calon penumpang berebut naik. Kakiku sudah melangkah ke satu anak tangga damri tersebut, tapi ku urungkan niatku, setelah petugas mengatakan ‘hanya tinggal beberapa kursi lagi yang kosong, di belakang masih ada satu lagi damri yang ke Bogor’. Tak berapa lama damri Bogor tiba, aku buru-buru dan mengangkat koperku ke Bagasi bawah damri. Aku harus berangkat sekarang, takut kemalaman nyampe di Bogor. Aku memilih duduk dekat jendela sebelah kanan dan langsung mengaktifkan mobile network ku, banyak teman yang mendoakan perjalananku baik via facebook, BBM, maupun pesan singkat.
Suddenly, ada seorang Om dengan kaca mata hitamnya izin untuk duduk di sebelahku, aku langsung mempersilahkannya. Aku tak begitu menikmati perjalanan Jakarta – Bogor, hanyut dengan doa dari abang, kakak, dan sahabat-sahabatku lewat dunia maya.
Furqan menelepon, menanyakan keberadaanku, padahal aku baru saja meninggalkan airport, masih sekitar dua jam lagi perjalananku. Tak lama setelah mematikan handphone, om yang dari tadi di sebelahku mengajak ngobrol.
‘Mau ke mana?’ tanya beliau
‘Bogor pak, bapak ke mana?’ tanyaku balik
‘Bogor juga, kuliah atau apa?’
‘Kuliah pak, bapak?
‘Ada kegiatan di Bogor’.
‘Dinas?’, tanyaku lagi.
‘Ia’.
Beliau pikir aku kuliah di IPB, wajar koq, di Bogor kan kampus IPB yang banyak dikenal orang, mungkin karena aku kuliah di kampus swasta jadi banyak orang yang belum tau, tapi aku tetap bangga dengan kampusku ini.
‘saya bukan di IPB pak, sekolah tinggi, dekat IPB juga’.
‘saya baru tau kalau di Bogor ada kampus bagus seperti IPB, tau gitu, saya suruh anak saya kuliah di situ, biar sekalian dijengukin berhubung akhir-akhir ini saya sering dinas di Bogor’.
Beliau membaca status ku mungkin yang membuat Om tersebut mengajakku makan, tadinya mau makan di Botani Square Mall, tau sendiri kan, Botani itu one of the big mall in Bogor, dan harganya pasti ‘gila’, aku juga merasa ga enak sama beliau.
Selama di perjalanan, kami banyak bercerita satu sama lain, mulai dari awal beliau merantau ke Kalimantan sampai cerita ku anak korban tsunami Aceh 2004.
Tamat SMA beliau langsung meninggalkan kota asalnya Cirebon. Anaknya yang pertama baru tahun ini masuk kuliah di jurusan Management di salah satu Universitas yang masih di Kalimantan juga, tadinya juga ada ikut test di UGM tapi ga lolos. Anaknya yang ke dua tahun depan masuk kuliah, cewe, Alhamdulillah berjilbab, lagi cari beasiswa dan Alhamdulillah selalu dapat peringkat 1 di sekolahnya, istrinya di Kalimantan yang sebelumnya bekerja di bank konvensional pindah ke bank syariah, tapi sekarang udah pindah kerja.
“Padahal dulu saya tamatan SMA, jadi apa yang dipelajari sama anak sekarang saya ga tau apa apa”. Aku beliau
“Pokoknya, yang penting sekolah aja”, tambahku,
“Ya, yang penting sekolah aja”, mengulang ucapanku.
“Calon pengusaha dong anaknya Pak”. Tambahku
“Amin”.
Aku juga ditawarin magang, temen beliau ada di Bank Muamalat, Omnya juga akan menghubungi temennya untuk kelanjutan magangku. Aku juga sempat ditawari permen, aku ambil, beliau kira aku belum mengambilnya, padahal aku udah mengambilnya, aku takut, takut seperti orang-orang yang dihipnotis, ku gigit sedikit permen yang beliau beri, takut dengan sesuatu hal buruk yang akan terjadi setelah permen itu masuk ke mulutku, tapi ternyata, tak ada efek buruk terhadap diriku.
Furqan menelepon menanyakan posisiku lagi. Omnya nanya, “udah punya temen cowo?”
“Bukan pak, temen yang jemput”, jawabku
“Umurnya sekarang berapa?”, tanya beliau lagi
“20 Pak, udah tua”,
“wajar koq”.
Aku bingung, wajar apanya ya???
Entahlah, pokoknya thanks buat Soto gratisnya Om.
Bogor, 14 September 2014
Saturday at 9:57 PM

Sunday, August 11, 2013

Lemparan pertanyaan

Suara ketukan pintu itu membuatku terjaga dari tidurku, abang yang mengetuknya, mengisyaratkan agar aku segera keluar dari kotak kuning alias kamarku untuk segera mandi sekalian berpamitan untuk shalat idul fitri dan menyuruhku untuk segera mengunci pintu dari dalam agar tak ada orang jahat yang masuk ke rumah (lagi musim pencurian di kampungku ini), tapi aku tak menghiraukan panggilan dan ketukan itu, *maaf ya abang.

Tak lama kemudian ku dengar suara pintu dikunci, seperti biasa, abang mengunci pintu dari luar dan membawa kunci itu bersamanya, tapi dugaanku salah, abang menggeserkan kunci itu ke dalam dari bawah pintu seperti yang biasa dilakukan oleh pak pos apabila tak ada orang yang membukakan pintu untuk mengambil surat serta menanda tangani bukti bahwa surat telah sampai ke tujuan.

At 9.48 ‘Icut May’ meneleponku untuk mengajak bersilaturrahmi ke rumah tetangga berhubung ini lebaran pertama, Icut itu tetanggaku, kisah hidupku tak jauh berbeda dengannya, tak bisa kujelaskan tentang itu di sini. Beberapa saat setelah ia meneleponku, suddenly, dia nyamperin aku ke rumah, kelamaan nunggu kali ya?, J. Aku menyuruhnya masuk tapi dianya malah masuk lewat pintu depan, dan ternyata aku baru ingat kalau kunci pintu depan nyangkut di gantungan kunci motor, karena pernah ketinggalan di pantai karena ulahku tapi aku menemukannya lagi, berusaha untuk ga ceroboh lagi, dan akhirnya aku menyuruhnya masuk lewat pintu samping tadi, untung ada kunci, kalau ga, aku ga bisa ngebayangin deh aku harus nungguin abangku shalat id sampe kelar, udah kaya di penjara aja kan?.

Selesai menyetrika jilbab hijauku, aku langsung mengenakannya. Pintu samping sudah terkunci, aku dan Icut pun berjalan menyusuri jalan hitam yang panjang dan hanya menjumpai satu belokan. Kami pun sampai, di depan rumah itu kami sudah disambut oleh seorang nenek yang sudah sangat tua, tapi beliau masih sangat kuat. Di dalam rumah ada seorang cucu dari nenek tadi, she is a lecturer at the faculty of law. Kami pun bersalaman, beliau tak menyadari kehadiranku sebelumnya, mungkin dipikirannya aku ini temannya Icut, tak lama dari itu ‘Nailul lagoe, pikee soe bunoe’, aku hanya tersenyum melihatnya, ‘pajan kawoe kenoe?’, ‘ka sibeleun inoe’, banyak pertanyaan yang mereka lemparkan kepadaku, example: ko di sini? Ga kuliah selama Ramadhan? Tinggal dimana? Rame anak Aceh di sana? Berapa tahun lagi kuliahnya? Jurusan apa? Beasiswa ya? Pulang sama siapa kemarin? Berani juga ya pulang sendiri? Pulang kemarin naik apa? Aku tak mengingat semua pertanyaannya secara detail.

Ketika sang cucu tadi ke dapur untuk membuatkan minum, aku bertanya pada Icut ‘ga ada alat penimbang berat badan ya?’, sambil menyapukan pandangan ke sekeliling sudut ruangan yang ada, dulu ketika masih kecil aku sering di ajak oleh orang tuaku baik abi, umi, dan nenek ke rumah ini, setiap kali aku ke sini aku pasti mencari cari benda itu, tapi itu dulu, sekarang benda itu sudah tak ada. Aku juga sempat kaget ketika sang cucu mengatakan ‘maken rayeuk maken mirip kak loh’, ‘kak loh’ panggilan untuk almarhumah umiku, itu hampir sembilan tahun yang lalu, tapi ingatanku masih sangat tajam terhadapnya.

Berbeda dengan tahun kemaren, yang juga melemparkan pertanyaan, udah kuliah? Dengan tegas aku menjawab ‘belum’, sekolah di mana sekarang? Rencananya mau lanjutin kuliah ke mana? Entahlah, kalau pun aku masih di beri kesempatan untuk menunaikan lebaran tahun depan aku ga tau apakah aku akan di beri pertanyaan yang serupa atau tidak, aku juga ga tau apakah aku masih di beri kesempatan menunaikan idul adha tahun ini atau tidak, kalaupun aku di beri kesempatan mungkin aku akan berlebaran di perantauanku sama halnya seperti yang terjadi tahun 2012 sebelumnya, mengingat liburan kuliah yang hanya di beri beberapa hari saja.

Banda Aceh, 08 August 2013
At 23:27