Tuesday, September 1, 2015

Failure last day

Info: Hari ini ga jadi masuk kata ka Nesya, nanti bakal di email tugas valuasi saham dan pembagiannya, bukan hari ini aja, tapi minggu ini, sorry *bang Jo 08.57
Waduh, trs ga jadi terakhir dong *Asyhar 09.04
Ahh
Kenapa baru kasih tau sekarang sih?, jerit ku dalam hati
Pagi tadi setelah solat Subuh aku langsung membuka Asus ku dan melanjutkan tugas magang yang belum sempat ku selesaikan semalam karena ketiduran, harap-harap cemas takut tidak punya waktu lagi, karena harus mengemail lagi ke bang Jo yang mengkoordinir yang kami juluki ketua magang dan paket internet hanya bisa ku gunakan sampai jam delapan pagi. Aku lihat WA dari Hani yang katanya telah mengirim tugasnya untuk check ulang, aku langsung membuka email dari Hani, sedikit mengedit tugas yang aku kerjakan sendiri dan ku selesaikan tugas resume yang satunya di ppt.
Shofi berangkat dijemput Hamas, motornya ditinggal di rumah Hamas. Bunda yang hari ini pindahan yang sebelumnya batal pindah karena orang yang menawarkan rumah ke Bunda meninggal dunia. Sekitar dua minggu yang lalu di hari Senin, sehari sebelum aku ke Bloomberg. Bunda mengangkat barang ke taxi dibantu oleh pak taxi, setelah menutup pintu dan sebelum jalan ia memanggilku dari luar.
“Naayy.”
“Yaa.” aku menyahut dari dalam kamar
“Jalan yaa.”
“Yaa.”
Tak lama dari itu ku turunkan motor dari kontrakanku yang tanahnya sedikit mendaki. Sebelum aku memarkir motor di Bellanova mall aku mampir ke kampus dulu untuk mengambil plakat. Keluar dari ruang akademik aku duduk sebentar di kursi tunggu dan mengabari anak-anak kalau plakat sudah aku ambil, tiba-tiba salah satu dosen ikut duduk di kursi tunggu akademik, basa-basi menanyakan semester berapa. tak lama dari itu aku langsung pamitan.
Setelah memarkir motor di mall yang tak jauh dari kampus, aku langsung ke pos polisi yang dijadikan halte oleh petugas dan calon penumpang APTB Sentul. Bahagia melihat APTB jurusan Grogol mendekat, ini kali pertamaku menaiki jurusan Grogol selama hampir sebulan lebih PP Sentul-Jakarta yang artinya aku tidak perlu transit di halte Cawang UKI. Aku tidak kebagian kursi karena kebanyakan penumpang, sebelum masuk tol aku lebih memilih tetap berdiri, berharap si petugas memberi koran untuk ku jadikan alas duduk di lesehan, seperti petugas APTB yang lain yang memberi service di perjalanan sebelumnya. Tak lama setelah masuk jalan tol, seorang mba yang duduk di lesehan membagi korannya pada ku untuk dijadikan alas duduk. Aku membuka WA dan baru tau kalau last day magang yang ditunggu-tunggu ternyata batal karena pihak perusahaan sedang kedatangan pihak OJK untuk proses audit.
***
Setelah membaca WA dari group magang aku bingung harus ngapain, sedangkan APTB yang ku naiki terus berjalan yang akan membawa ku ke Grogol. Andai saja saat itu aku bisa berteriak sambil bilang ‘stop, kiri pak’ pasti aku akan jadi pusat perhatian di dalam APTB, emangnya ini angkot yang bisa berhenti di mana dan semaunya aja, kalaupun bus ini berhenti belum tentu juga aku bisa menemukan bus pengganti yang akan mengantarku balik ke Sentul.
Bus terus berjalan, aku ingin memastikan apakah bus ini akan melewati halte Semanggi atau tidak, ku lihat mba yang di sampingku, sepertinya si mba itu tertidur, pandanganku turun ke tangannya yang di sembunyikan di balik tasnya, ternyata dia sedang bertasbih dengan tasbih digital sambil memejamkan matanya. Ku urungkan niat untuk bertanya.
Aku terus berpikir keras, aku bisa saja turun di halte UKI dan menunggu bus lain yang akan ke Sentul, itu berarti aku menghabiskan 32k PP Sentul-UKI tanpa mengunjungi satu tempat pun, kalaupun aku pulang tak ada yang bisa aku lakukan di kontrakan. Tiba-tiba mba yang di samping ku tadi membuka tasnya, ini kesempatanku untuk bertanya.
“Mba, bus ini nyampe ke Semanggi?”
“Ga tau, aku sih turun di UKI”
Aku masih berpikir keras, co driver memberitahu kepada penumpang yang akan turun di UKI untuk bersiap-siap, aku pun berdiri dari lesehan, bukan ikut turun seperti sebagian penumpang yang lain tapi aku memilih mencari kursi yang kosong ditinggal penumpang yang turun dan tetap melanjutkan perjalananku, aku menanyakan lagi ke penumpang lain di sebelahku, dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dan tetap dengan jawaban yang sama ‘ga tau’.
Aku mendengar co driver menyebutkan tujuan bus ini ketika sampai di halte UKI, mungkin ada penumpang di halte yang terburu-buru dan memilih menggunakan bus yang sama denganku dari pada harus menunggu TransJakarta yang masih terjebak macet entah di mana, saat itu co driver menyebut Semanggi salah satu halte yang akan dilewati, itu membuatku bertambah yakin. Aku memutuskan untuk ke Istiqlal.
Halte Semanggi jadi halte transit pertamaku, aku langsung menelusuri halte yang panjangnya Subhanallah menuju halte Bendungan Hilir. Sebelumnya aku nanya dulu ke petugas busway, aku melangkahkan kaki ku ke dalam busway setelah mendengar dari petugas kalau mau ke halte Juanda transit di Harmoni, sesampainya di Harmoni aku langsung mengantre di pintu tujuan Blok M, busway jalan tetapi aku tidak melihat kalau bus ini akan melewati halte Juanda, aku memutuskan untuk turun di halte Monas. Di halte Monas aku celingak-celinguk melihat peta busway, aku ingin bertanya pada orang yang juga menggunakan seragam, tapi agak aneh karena mereka sedang membersihkan kaca halte, aku kembali mengurungkan untuk bertanya.
“Mau ke mana mba?” Tanya petugas yang lain dengan seragam busway yang benar.
“Juanda” jawabku
Sang petugas langsung memintaku untuk melanjutkan perjalanan dan transit di Harmoni. Oh my God, aku seperti sedang menertawakan diri sendiri yang dari tadi bolak-balik Harmoni. Lagi-lagi aku transit di Harmoni, aku melihat penumpang lain yang mungkin juga kebingungan seperti ku yang tidak tau arah tujuannya dengan melihat peta, aku pun ikut mendekati peta, tapi aku tidak bisa melihat karena tulisannya kecil sekali seperti semut. Aku meninggalkan peta dan bertanya ke petugas yang sedang duduk di meja kerjanya. Aku menemukan arah, ujung sebelah kanan pintu ke PGC, busway ini yang mengantarkan aku ke Juanda.
Keluar dari halte Juanda aku memasuki gerbang Istiqlal, aku membeli dua potong roti untuk mengganjal perutku di pedagang kaki lima tidak jauh dari gerbang.
Hari ini aku menyempatkan solat Zuhur di Istiqlal shaf pertama, Tuhan punya rencana yang lebih indah di balik batalnya pertemuan magang terakhirku.

Kuningan, Jamsostek Gatot Subroto, Lipi, Sentul City
25 Agustus 2015

1 comment: