Suara ketukan pintu itu membuatku terjaga dari tidurku,
abang yang mengetuknya, mengisyaratkan agar aku segera keluar dari kotak kuning
alias kamarku untuk segera mandi sekalian berpamitan untuk shalat idul fitri
dan menyuruhku untuk segera mengunci pintu dari dalam agar tak ada orang jahat
yang masuk ke rumah (lagi musim pencurian di kampungku ini), tapi aku tak
menghiraukan panggilan dan ketukan itu, *maaf ya abang.
Tak lama kemudian ku dengar suara pintu dikunci, seperti
biasa, abang mengunci pintu dari luar dan membawa kunci itu bersamanya, tapi
dugaanku salah, abang menggeserkan kunci itu ke dalam dari bawah pintu seperti
yang biasa dilakukan oleh pak pos apabila tak ada orang yang membukakan pintu
untuk mengambil surat serta menanda tangani bukti bahwa surat telah sampai ke
tujuan.
At 9.48 ‘Icut May’ meneleponku untuk mengajak
bersilaturrahmi ke rumah tetangga berhubung ini lebaran pertama, Icut itu
tetanggaku, kisah hidupku tak jauh berbeda dengannya, tak bisa kujelaskan tentang
itu di sini. Beberapa saat setelah ia meneleponku, suddenly, dia nyamperin aku
ke rumah, kelamaan nunggu kali ya?, J.
Aku menyuruhnya masuk tapi dianya malah masuk lewat pintu depan, dan ternyata
aku baru ingat kalau kunci pintu depan nyangkut di gantungan kunci motor, karena
pernah ketinggalan di pantai karena ulahku tapi aku menemukannya lagi, berusaha
untuk ga ceroboh lagi, dan akhirnya aku menyuruhnya masuk lewat pintu samping
tadi, untung ada kunci, kalau ga, aku ga bisa ngebayangin deh aku harus
nungguin abangku shalat id sampe kelar, udah kaya di penjara aja kan?.
Selesai menyetrika jilbab hijauku, aku langsung
mengenakannya. Pintu samping sudah terkunci, aku dan Icut pun berjalan
menyusuri jalan hitam yang panjang dan hanya menjumpai satu belokan. Kami pun
sampai, di depan rumah itu kami sudah disambut oleh seorang nenek yang sudah
sangat tua, tapi beliau masih sangat kuat. Di dalam rumah ada seorang cucu dari
nenek tadi, she is a lecturer at the faculty of law. Kami pun bersalaman,
beliau tak menyadari kehadiranku sebelumnya, mungkin dipikirannya aku ini
temannya Icut, tak lama dari itu ‘Nailul lagoe, pikee soe bunoe’, aku hanya
tersenyum melihatnya, ‘pajan kawoe kenoe?’, ‘ka sibeleun inoe’, banyak
pertanyaan yang mereka lemparkan kepadaku, example: ko di sini? Ga kuliah
selama Ramadhan? Tinggal dimana? Rame anak Aceh di sana? Berapa tahun lagi
kuliahnya? Jurusan apa? Beasiswa ya? Pulang sama siapa kemarin? Berani juga ya
pulang sendiri? Pulang kemarin naik apa? Aku tak mengingat semua pertanyaannya
secara detail.
Ketika sang cucu tadi ke dapur untuk membuatkan minum, aku
bertanya pada Icut ‘ga ada alat penimbang berat badan ya?’, sambil menyapukan
pandangan ke sekeliling sudut ruangan yang ada, dulu ketika masih kecil aku
sering di ajak oleh orang tuaku baik abi, umi, dan nenek ke rumah ini, setiap
kali aku ke sini aku pasti mencari cari benda itu, tapi itu dulu, sekarang
benda itu sudah tak ada. Aku juga sempat kaget ketika sang cucu mengatakan
‘maken rayeuk maken mirip kak loh’, ‘kak loh’ panggilan untuk almarhumah umiku,
itu hampir sembilan tahun yang lalu, tapi ingatanku masih sangat tajam
terhadapnya.
Berbeda dengan tahun kemaren, yang juga melemparkan
pertanyaan, udah kuliah? Dengan tegas aku menjawab ‘belum’, sekolah di mana
sekarang? Rencananya mau lanjutin kuliah ke mana? Entahlah, kalau pun aku masih
di beri kesempatan untuk menunaikan lebaran tahun depan aku ga tau apakah aku
akan di beri pertanyaan yang serupa atau tidak, aku juga ga tau apakah aku
masih di beri kesempatan menunaikan idul adha tahun ini atau tidak, kalaupun
aku di beri kesempatan mungkin aku akan berlebaran di perantauanku sama halnya
seperti yang terjadi tahun 2012 sebelumnya, mengingat liburan kuliah yang hanya
di beri beberapa hari saja.
Banda Aceh, 08 August 2013
At 23:27
Sedih :'(
ReplyDelete:'(
ReplyDelete