Pesawat landed dan itu artinya aku telah tiba di Jakarta. Cuaca
di langit kota yang aku pijaki sekarang sangat panas, jauh berbeda dengan kota
yang baru saja aku tinggalkan, hujan yang membuat delay dari jadwal yang sudah
dijanjikan.
Pintu dibuka oleh awak kabin, penumpang segera keluar dari
dalam pesawat. Tak butuh waktu lama, aku bangun dari tempat dudukku sambil
membawa satu tas yang dari tadi berada dipangkuanku, takut tak bisa aku jangkau
ketika akan meninggalkan pesawat adalah salah satu alasan aku tak menyimpannya
di bagasi kabin atas dan memilih meletakkannya di bawah tempat dudukku, aku
melihat seorang mba yang melakukan hal yang sama di penerbangan sebelumnya.
Masuk ke gedung Soekarno Hatta airport aku langsung menuju ke
tempat pengambilan bagasi, sambil menunggu koper di conveyor bagasi, aku
memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang berada tepat di sebelahku. ‘Dari
mana bang?’, ‘dari Banda Aceh’ jawabnya. Berarti aku ga salah, dari kota yang
sama dan pastinya koperku ada di sini. Masih muda, kira-kira 2 tahun lebih muda
dariku, hanya perkiraanku saja. Seingatku tujuannya ke Jakarta selatan. Dia
juga menanyakan tujuanku, dan aku menjawab ‘Bogor’.
Keluar dari gedung airport aku langsung menuju ke tempat
pembelian tiket damri. Bogor Rp. 45.000. Lama menunggu damri dengan tujuanku,
aku memutuskan duduk untuk menghilangkan lelah. Dari tadi damri yang lewat
dengan jurusan Rawamangun, Blok M, Gambir, Bekasi, Lebak Bulus, bahkan Bandung
pun ada, tapi damri ke Bogor tidak kunjung datang.
‘Pak, Bogor udah lewat belum?’ tanya seorang calon penumpang.
‘Bogor, Bogor ada di belakang’. Jawab petugas damri
Calon penumpang Bogor pun bersiap-siap, yang tadinya duduk
dengan santai, langsung berdiri dan tergopoh-gopoh dengan bawaannya, takut
kelebihan muatan damri dan harus menunggu damri berikutnya itu sesuatu yang
membosankan. Damri tiba, semua calon penumpang berebut naik. Kakiku sudah
melangkah ke satu anak tangga damri tersebut, tapi ku urungkan niatku, setelah
petugas mengatakan ‘hanya tinggal beberapa kursi lagi yang kosong, di belakang
masih ada satu lagi damri yang ke Bogor’. Tak berapa lama damri Bogor tiba, aku
buru-buru dan mengangkat koperku ke Bagasi bawah damri. Aku harus berangkat
sekarang, takut kemalaman nyampe di Bogor. Aku memilih duduk dekat jendela
sebelah kanan dan langsung mengaktifkan mobile network ku, banyak teman yang
mendoakan perjalananku baik via facebook, BBM, maupun pesan singkat.
Suddenly, ada seorang Om dengan kaca mata hitamnya izin untuk
duduk di sebelahku, aku langsung mempersilahkannya. Aku tak begitu menikmati
perjalanan Jakarta – Bogor, hanyut dengan doa dari abang, kakak, dan
sahabat-sahabatku lewat dunia maya.
Furqan menelepon, menanyakan keberadaanku, padahal aku baru
saja meninggalkan airport, masih sekitar dua jam lagi perjalananku. Tak lama
setelah mematikan handphone, om yang dari tadi di sebelahku mengajak ngobrol.
‘Mau ke mana?’ tanya beliau
‘Bogor pak, bapak ke mana?’ tanyaku balik
‘Bogor juga, kuliah atau apa?’
‘Kuliah pak, bapak?
‘Ada kegiatan di Bogor’.
‘Dinas?’, tanyaku lagi.
‘Ia’.
Beliau pikir aku kuliah di IPB, wajar koq, di Bogor kan
kampus IPB yang banyak dikenal orang, mungkin karena aku kuliah di kampus
swasta jadi banyak orang yang belum tau, tapi aku tetap bangga dengan kampusku
ini.
‘saya bukan di IPB pak, sekolah tinggi, dekat IPB juga’.
‘saya baru tau kalau di Bogor ada kampus bagus seperti IPB,
tau gitu, saya suruh anak saya kuliah di situ, biar sekalian dijengukin
berhubung akhir-akhir ini saya sering dinas di Bogor’.
Beliau membaca status ku mungkin yang membuat Om tersebut
mengajakku makan, tadinya mau makan di Botani Square Mall, tau sendiri kan, Botani
itu one of the big mall in Bogor, dan harganya pasti ‘gila’, aku juga merasa ga
enak sama beliau.
Selama di perjalanan, kami banyak bercerita satu sama lain,
mulai dari awal beliau merantau ke Kalimantan sampai cerita ku anak korban tsunami
Aceh 2004.
Tamat SMA beliau langsung meninggalkan kota asalnya Cirebon. Anaknya
yang pertama baru tahun ini masuk kuliah di jurusan Management di salah satu
Universitas yang masih di Kalimantan juga, tadinya juga ada ikut test di UGM
tapi ga lolos. Anaknya yang ke dua tahun depan masuk kuliah, cewe, Alhamdulillah
berjilbab, lagi cari beasiswa dan Alhamdulillah selalu dapat peringkat 1 di
sekolahnya, istrinya di Kalimantan yang sebelumnya bekerja di bank konvensional
pindah ke bank syariah, tapi sekarang udah pindah kerja.
“Padahal dulu saya tamatan SMA, jadi apa yang dipelajari sama
anak sekarang saya ga tau apa apa”. Aku beliau
“Pokoknya, yang penting sekolah aja”, tambahku,
“Ya, yang penting sekolah aja”, mengulang ucapanku.
“Calon pengusaha dong anaknya Pak”. Tambahku
“Amin”.
Aku juga ditawarin magang, temen beliau ada di Bank Muamalat,
Omnya juga akan menghubungi temennya untuk kelanjutan magangku. Aku juga sempat
ditawari permen, aku ambil, beliau kira aku belum mengambilnya, padahal aku udah
mengambilnya, aku takut, takut seperti orang-orang yang dihipnotis, ku gigit
sedikit permen yang beliau beri, takut dengan sesuatu hal buruk yang akan
terjadi setelah permen itu masuk ke mulutku, tapi ternyata, tak ada efek buruk
terhadap diriku.
Furqan menelepon menanyakan posisiku lagi. Omnya nanya, “udah
punya temen cowo?”
“Bukan pak, temen yang jemput”, jawabku
“Umurnya sekarang berapa?”, tanya beliau lagi
“20 Pak, udah tua”,
“wajar koq”.
Aku bingung, wajar apanya ya???
Entahlah, pokoknya thanks buat Soto gratisnya Om.
Bogor, 14 September 2014
Saturday at 9:57 PM


nice story. kamu pinter berceritaaa. hehehe
ReplyDeleteThanks mba Siti :-)
DeleteHehe
This comment has been removed by the author.
DeleteBagusssss.... mantap... kopas boleh :-D
ReplyDeleteMau copas ke mana???
Delete-_-
Alasan kenapa merantau bukanlah hal yang menakutkan. Terlepas dari semua stigma tentang kota besar (apalagi buat cewek) masih banyak ko orang baik. Walaupun presentasinya 1 dari 100 mungkin. Tapi ada saja hal yang menarik yang dapat kita temui di sepanjang perjalanan. Kalau merantau diibaratkan sebuat perjalanan panjang, jenuh adalah hal yg menjadi alasan kenapa org sering berpikir berulang kali untuk pergi. Tapi, mereka tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa ada hal menarik diluar batas perkiraan manusia yang bisa terjadi. Seperti yang kau alami itu Nai..
ReplyDeleteSukses terus kuliahnya.. :)