Monday, October 5, 2015

Review

Review journal oleh bu Ela
baru nerima email hari ini Senin 05 Oktober 2015, hari Rabu nanti udah ngumpulin Bab I.

Tuesday, September 1, 2015

Failure last day

Info: Hari ini ga jadi masuk kata ka Nesya, nanti bakal di email tugas valuasi saham dan pembagiannya, bukan hari ini aja, tapi minggu ini, sorry *bang Jo 08.57
Waduh, trs ga jadi terakhir dong *Asyhar 09.04
Ahh
Kenapa baru kasih tau sekarang sih?, jerit ku dalam hati
Pagi tadi setelah solat Subuh aku langsung membuka Asus ku dan melanjutkan tugas magang yang belum sempat ku selesaikan semalam karena ketiduran, harap-harap cemas takut tidak punya waktu lagi, karena harus mengemail lagi ke bang Jo yang mengkoordinir yang kami juluki ketua magang dan paket internet hanya bisa ku gunakan sampai jam delapan pagi. Aku lihat WA dari Hani yang katanya telah mengirim tugasnya untuk check ulang, aku langsung membuka email dari Hani, sedikit mengedit tugas yang aku kerjakan sendiri dan ku selesaikan tugas resume yang satunya di ppt.
Shofi berangkat dijemput Hamas, motornya ditinggal di rumah Hamas. Bunda yang hari ini pindahan yang sebelumnya batal pindah karena orang yang menawarkan rumah ke Bunda meninggal dunia. Sekitar dua minggu yang lalu di hari Senin, sehari sebelum aku ke Bloomberg. Bunda mengangkat barang ke taxi dibantu oleh pak taxi, setelah menutup pintu dan sebelum jalan ia memanggilku dari luar.
“Naayy.”
“Yaa.” aku menyahut dari dalam kamar
“Jalan yaa.”
“Yaa.”
Tak lama dari itu ku turunkan motor dari kontrakanku yang tanahnya sedikit mendaki. Sebelum aku memarkir motor di Bellanova mall aku mampir ke kampus dulu untuk mengambil plakat. Keluar dari ruang akademik aku duduk sebentar di kursi tunggu dan mengabari anak-anak kalau plakat sudah aku ambil, tiba-tiba salah satu dosen ikut duduk di kursi tunggu akademik, basa-basi menanyakan semester berapa. tak lama dari itu aku langsung pamitan.
Setelah memarkir motor di mall yang tak jauh dari kampus, aku langsung ke pos polisi yang dijadikan halte oleh petugas dan calon penumpang APTB Sentul. Bahagia melihat APTB jurusan Grogol mendekat, ini kali pertamaku menaiki jurusan Grogol selama hampir sebulan lebih PP Sentul-Jakarta yang artinya aku tidak perlu transit di halte Cawang UKI. Aku tidak kebagian kursi karena kebanyakan penumpang, sebelum masuk tol aku lebih memilih tetap berdiri, berharap si petugas memberi koran untuk ku jadikan alas duduk di lesehan, seperti petugas APTB yang lain yang memberi service di perjalanan sebelumnya. Tak lama setelah masuk jalan tol, seorang mba yang duduk di lesehan membagi korannya pada ku untuk dijadikan alas duduk. Aku membuka WA dan baru tau kalau last day magang yang ditunggu-tunggu ternyata batal karena pihak perusahaan sedang kedatangan pihak OJK untuk proses audit.
***
Setelah membaca WA dari group magang aku bingung harus ngapain, sedangkan APTB yang ku naiki terus berjalan yang akan membawa ku ke Grogol. Andai saja saat itu aku bisa berteriak sambil bilang ‘stop, kiri pak’ pasti aku akan jadi pusat perhatian di dalam APTB, emangnya ini angkot yang bisa berhenti di mana dan semaunya aja, kalaupun bus ini berhenti belum tentu juga aku bisa menemukan bus pengganti yang akan mengantarku balik ke Sentul.
Bus terus berjalan, aku ingin memastikan apakah bus ini akan melewati halte Semanggi atau tidak, ku lihat mba yang di sampingku, sepertinya si mba itu tertidur, pandanganku turun ke tangannya yang di sembunyikan di balik tasnya, ternyata dia sedang bertasbih dengan tasbih digital sambil memejamkan matanya. Ku urungkan niat untuk bertanya.
Aku terus berpikir keras, aku bisa saja turun di halte UKI dan menunggu bus lain yang akan ke Sentul, itu berarti aku menghabiskan 32k PP Sentul-UKI tanpa mengunjungi satu tempat pun, kalaupun aku pulang tak ada yang bisa aku lakukan di kontrakan. Tiba-tiba mba yang di samping ku tadi membuka tasnya, ini kesempatanku untuk bertanya.
“Mba, bus ini nyampe ke Semanggi?”
“Ga tau, aku sih turun di UKI”
Aku masih berpikir keras, co driver memberitahu kepada penumpang yang akan turun di UKI untuk bersiap-siap, aku pun berdiri dari lesehan, bukan ikut turun seperti sebagian penumpang yang lain tapi aku memilih mencari kursi yang kosong ditinggal penumpang yang turun dan tetap melanjutkan perjalananku, aku menanyakan lagi ke penumpang lain di sebelahku, dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dan tetap dengan jawaban yang sama ‘ga tau’.
Aku mendengar co driver menyebutkan tujuan bus ini ketika sampai di halte UKI, mungkin ada penumpang di halte yang terburu-buru dan memilih menggunakan bus yang sama denganku dari pada harus menunggu TransJakarta yang masih terjebak macet entah di mana, saat itu co driver menyebut Semanggi salah satu halte yang akan dilewati, itu membuatku bertambah yakin. Aku memutuskan untuk ke Istiqlal.
Halte Semanggi jadi halte transit pertamaku, aku langsung menelusuri halte yang panjangnya Subhanallah menuju halte Bendungan Hilir. Sebelumnya aku nanya dulu ke petugas busway, aku melangkahkan kaki ku ke dalam busway setelah mendengar dari petugas kalau mau ke halte Juanda transit di Harmoni, sesampainya di Harmoni aku langsung mengantre di pintu tujuan Blok M, busway jalan tetapi aku tidak melihat kalau bus ini akan melewati halte Juanda, aku memutuskan untuk turun di halte Monas. Di halte Monas aku celingak-celinguk melihat peta busway, aku ingin bertanya pada orang yang juga menggunakan seragam, tapi agak aneh karena mereka sedang membersihkan kaca halte, aku kembali mengurungkan untuk bertanya.
“Mau ke mana mba?” Tanya petugas yang lain dengan seragam busway yang benar.
“Juanda” jawabku
Sang petugas langsung memintaku untuk melanjutkan perjalanan dan transit di Harmoni. Oh my God, aku seperti sedang menertawakan diri sendiri yang dari tadi bolak-balik Harmoni. Lagi-lagi aku transit di Harmoni, aku melihat penumpang lain yang mungkin juga kebingungan seperti ku yang tidak tau arah tujuannya dengan melihat peta, aku pun ikut mendekati peta, tapi aku tidak bisa melihat karena tulisannya kecil sekali seperti semut. Aku meninggalkan peta dan bertanya ke petugas yang sedang duduk di meja kerjanya. Aku menemukan arah, ujung sebelah kanan pintu ke PGC, busway ini yang mengantarkan aku ke Juanda.
Keluar dari halte Juanda aku memasuki gerbang Istiqlal, aku membeli dua potong roti untuk mengganjal perutku di pedagang kaki lima tidak jauh dari gerbang.
Hari ini aku menyempatkan solat Zuhur di Istiqlal shaf pertama, Tuhan punya rencana yang lebih indah di balik batalnya pertemuan magang terakhirku.

Kuningan, Jamsostek Gatot Subroto, Lipi, Sentul City
25 Agustus 2015

Thursday, July 2, 2015

Sugar

Oh my God
I don’t know, belakangan aku sering berdebat sama Bunda. Setelah salat Isya tadi kami baru saja berdebat panjang hanya karena masalah ‘gula’ yang mau ku campur ke air teh.
A: “gula mana Bun?”
B: “tu di keranjang”
Ketika aku mau menyendok gula, Bunda merampas gula yang masih dengan bungkusannya dari genggamanku.
B: “no no no, bukan begini caranya”
Aku hanya terdiam dan sendok gula yang tadi masih di tangan. Bunda memulai dan Aku berusaha mendengar omelannya. Tangannya terus bekerja merebus air dengan pemanas air listrik kesayangannya itu, masih tetap dengan omelannya. Kali ini Ia tidak mengeluarkan kalimat andalannya ‘gini gini Bunda punya basic nurse jadi semua yang berhubungan dengan kesehatan harus steril’.
B: “Nay, kamu ga tau kan, gula itu masih ada bacterinya, proses pembentukan gula jadi kotak kotak kecil gini kan di injak pake kaki waktu masih di pabrik. Setelah melewati proses penghalusan, gula itu dijemur dengan alasan untuk menghilangkan bacteri.”
Aku membatin, “Oh my God. Sekarangkan udah 2015 Bun! Semua pekerjaan menggunakan mesin dan ga pake kaki seperti jaman dulu karena kekurangan fasilitas dan dana untuk segala hal bentuk produksi.” Ini bentuk penolakanku terhadap alasan yang Bunda lontarkan tadi.
A: “ya udah, Nay ga jadi minum teh manis, ga usah direbus lagi airnya Bun.”
B: “Nay gitu deh, ambekan. Bunda kan mau ngajarin kamu dan buat kebaikan kamu juga. Kamu mah ga mau dengerin kalo diajarin, kalo kamu ga mau biar Bunda aja yang minum”
A: “bukan gitu Bun, Nay ga jadi minum teh manis sekarang, tapi next nay pake cara Bunda How to make tea.”
Air yang tadi direbus sudah mendidih dan dituangkan ke dalam gelas berisi gula, kata Bunda sih air yang baru mendidih itu bisa menghilangkan bacteri, tapi kan air yang ku seduh tadi masih hangat, apa itu tidak cukup untuk membunuh bacteri?
Aku tetap meminum seduhan teh hangat tanpa gula itu.
Tak lagi terdengar percakapan di antara kami, hanya terdengar dengungan dua kipas angin di dalam kost baru ku ini. Kost dengan down payment 250K di tanggal 27 Juni 2015.
Aku memecahkan kesunyian kamar kost saat Aku meminta digeserkan terminal untuk men-charge notebook ku yang bocor dan fokus dengan tulisanku ini.
Thanks for caring about me, Bun.
2 Juli 2015
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Friday, May 22, 2015

Dilema Magang

Ada apa dengan angka 21 kali ini?
Sinar Mentari menembus kain penutup jendela kamar kontrakanku. Dering handphone memaksaku bergerak dan melirik layar handphone, incoming call from ‘Daddy’, sadar kalau hari ini aku harus memberikan jawaban tentang program magang yang akan aku ikuti di pertengahan Ramadhan nanti, tapi aku belum yakin dengan keputusan ku, takut salah langkah yang nanti akan berpengaruh ke nilai mata kuliah. Aku merasa berdosa banget karena mengabaikan panggilan dari Abi, Sorry Dad!
Juni 2014, Abi mengajakku ke kota Delhi Van Java untuk suatu kegiatan. Aku yang senang diajak jalan ke manapun tentu akan mengiyakan, apalagi waktu itu bersama Abi, tentu aku tidak mengeluarkan Budget 1 Rupiah pun, tapi resiko nya aku harus meninggalkan beberapa kelas selama aku di Tasik. Singkat cerita, aku diajak ke salah satu BMT yang ada di sana dan kepala BMT menawarkanku untuk magang, hati kecilku berkata ‘celah magang ku sudah mulai tampak, tapi ini bukan menjadi targetku sekarang’, at least ini bisa menjadi cadangan magangku nanti.
18 Mei lalu aku dapat berita bahwa kami yang mengajukan permohonan magang ke DJP ditolak. Kecewa ya pasti ada tapi tetap Alhamdulillah, mungkin menurut Tuhan ini yang terbaik untukku dan teman-teman. Ini mungkin yang namanya perjuangan mencari kerja, dan sekarang aku berada di posisi seorang pencari kerja. Di posisi ku yang sekarang masih dianggap kecil yang hanya mengandalkan surat pengantar magang dari kampus, tapi mereka yang di luar sana akan mempertimbangkan karyawan dengan CV yang bagus dan experienced.
Hari ini 21 Mei 2015, di pagi pertambahan usia, aku sudah mengecewakan Abi, karena belum juga memberi kepastian tentang magangku yang hanya tersisa satu bulan lagi. Aku tau maksud Abi baik, beliau memaksaku untuk segera bertindak agar nantinya tidak membuang waktu dan depresi mencari tempat magang ketika jadwalnya tiba, dan Abi akan mempersiapkan semua tentang kebutuhanku, mulai dari kostan ku nanti sampai biaya-biaya yang akan aku keluarkan. Sebenarnya Abi sudah mencarikan kostan di Rawamangun melalui temannya jika aku magang di DJP nanti, itu salah satu usaha Abiku dalam membantu proses magangku, dan kenyataannya sekarang Aku tidak diterima di Kantor Pajak yang ku impikan selama ini.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aku menyambut 21 Mei dengan bahagia, tapi kali ini aku merasa ada suatu beban yang berat sedang ku pikul dan membuat air mataku keluar dari bendungannya, oh Tuhan, mungkin dosa ku sudah terlalu banyak yang membuatku sulit mendapatkan apa yang ku inginkan.
I am grateful to God for the gift of life, I am void without him. Also thankful to my earthly parents for nurturing me into the graceful, lovely and great woman I am today.
I wish, 20 tahun sebelumnya yang telah aku lewati menjadi pelajaran hidup yang akan memperbaiki langkah ku di sisa umurku, dan semoga Engkau meridhoi apa yang akan aku kerjakan ya Rabb, karena apapun yang aku lakukan tanpa ridhomu hanya akan sia-sia kulakukan.
Grand Sentul City
w. 21, May 21, 2015
21:21 WIB