Info: Hari ini ga jadi masuk kata
ka Nesya, nanti bakal di email tugas valuasi saham dan pembagiannya, bukan hari
ini aja, tapi minggu ini, sorry *bang Jo 08.57
Waduh, trs ga jadi terakhir dong
*Asyhar 09.04
Ahh
Kenapa baru kasih tau sekarang
sih?, jerit ku dalam hati
Pagi tadi setelah solat Subuh aku
langsung membuka Asus ku dan melanjutkan tugas magang yang belum sempat
ku selesaikan semalam karena ketiduran, harap-harap cemas takut tidak punya
waktu lagi, karena harus mengemail lagi ke bang Jo yang mengkoordinir yang kami
juluki ketua magang dan paket internet hanya bisa ku gunakan sampai jam delapan
pagi. Aku lihat WA dari Hani yang katanya telah mengirim tugasnya untuk check
ulang, aku langsung membuka email dari Hani, sedikit mengedit tugas yang aku kerjakan
sendiri dan ku selesaikan tugas resume yang satunya di ppt.
Shofi berangkat dijemput Hamas,
motornya ditinggal di rumah Hamas. Bunda yang hari ini pindahan yang sebelumnya
batal pindah karena orang yang menawarkan rumah ke Bunda meninggal dunia. Sekitar
dua minggu yang lalu di hari Senin, sehari sebelum aku ke Bloomberg. Bunda
mengangkat barang ke taxi dibantu oleh pak taxi, setelah menutup pintu dan
sebelum jalan ia memanggilku dari luar.
“Naayy.”
“Yaa.” aku menyahut dari dalam
kamar
“Jalan yaa.”
“Yaa.”
Tak lama dari itu ku turunkan
motor dari kontrakanku yang tanahnya sedikit mendaki. Sebelum aku memarkir
motor di Bellanova mall aku mampir ke kampus dulu untuk mengambil plakat.
Keluar dari ruang akademik aku duduk sebentar di kursi tunggu dan mengabari anak-anak
kalau plakat sudah aku ambil, tiba-tiba salah satu dosen ikut duduk di kursi
tunggu akademik, basa-basi menanyakan semester berapa. tak lama dari itu aku
langsung pamitan.
Setelah memarkir motor di mall
yang tak jauh dari kampus, aku langsung ke pos polisi yang dijadikan halte oleh
petugas dan calon penumpang APTB Sentul. Bahagia melihat APTB jurusan Grogol
mendekat, ini kali pertamaku menaiki jurusan Grogol selama hampir sebulan lebih
PP Sentul-Jakarta yang artinya aku tidak perlu transit di halte Cawang UKI. Aku
tidak kebagian kursi karena kebanyakan penumpang, sebelum masuk tol aku lebih
memilih tetap berdiri, berharap si petugas memberi koran untuk ku jadikan alas
duduk di lesehan, seperti petugas APTB yang lain yang memberi service di
perjalanan sebelumnya. Tak lama setelah masuk jalan tol, seorang mba yang duduk
di lesehan membagi korannya pada ku untuk dijadikan alas duduk. Aku membuka WA
dan baru tau kalau last day magang yang ditunggu-tunggu ternyata batal
karena pihak perusahaan sedang kedatangan pihak OJK untuk proses audit.
***
Setelah membaca WA dari group
magang aku bingung harus ngapain, sedangkan APTB yang ku naiki terus berjalan
yang akan membawa ku ke Grogol. Andai saja saat itu aku bisa berteriak sambil
bilang ‘stop, kiri pak’ pasti aku akan jadi pusat perhatian di dalam APTB,
emangnya ini angkot yang bisa berhenti di mana dan semaunya aja, kalaupun bus
ini berhenti belum tentu juga aku bisa menemukan bus pengganti yang akan
mengantarku balik ke Sentul.
Bus terus berjalan, aku ingin
memastikan apakah bus ini akan melewati halte Semanggi atau tidak, ku lihat mba
yang di sampingku, sepertinya si mba itu tertidur, pandanganku turun ke
tangannya yang di sembunyikan di balik tasnya, ternyata dia sedang bertasbih
dengan tasbih digital sambil memejamkan matanya. Ku urungkan niat untuk
bertanya.
Aku terus berpikir keras, aku
bisa saja turun di halte UKI dan menunggu bus lain yang akan ke Sentul, itu
berarti aku menghabiskan 32k PP Sentul-UKI tanpa mengunjungi satu tempat pun,
kalaupun aku pulang tak ada yang bisa aku lakukan di kontrakan. Tiba-tiba mba
yang di samping ku tadi membuka tasnya, ini kesempatanku untuk bertanya.
“Mba, bus ini nyampe ke Semanggi?”
“Ga tau, aku sih turun di UKI”
Aku masih berpikir keras, co
driver memberitahu kepada penumpang yang akan turun di UKI untuk bersiap-siap,
aku pun berdiri dari lesehan, bukan ikut turun seperti sebagian penumpang yang
lain tapi aku memilih mencari kursi yang kosong ditinggal penumpang yang turun
dan tetap melanjutkan perjalananku, aku menanyakan lagi ke penumpang lain di
sebelahku, dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dan tetap dengan
jawaban yang sama ‘ga tau’.
Aku mendengar co driver
menyebutkan tujuan bus ini ketika sampai di halte UKI, mungkin ada penumpang di
halte yang terburu-buru dan memilih menggunakan bus yang sama denganku dari
pada harus menunggu TransJakarta yang masih terjebak macet entah di mana, saat
itu co driver menyebut Semanggi salah satu halte yang akan dilewati, itu membuatku
bertambah yakin. Aku memutuskan untuk ke Istiqlal.
Halte Semanggi jadi halte transit
pertamaku, aku langsung menelusuri halte yang panjangnya Subhanallah menuju
halte Bendungan Hilir. Sebelumnya aku nanya dulu ke petugas busway, aku
melangkahkan kaki ku ke dalam busway setelah mendengar dari petugas kalau mau
ke halte Juanda transit di Harmoni, sesampainya di Harmoni aku langsung
mengantre di pintu tujuan Blok M, busway jalan tetapi aku tidak melihat kalau
bus ini akan melewati halte Juanda, aku memutuskan untuk turun di halte Monas. Di
halte Monas aku celingak-celinguk melihat peta busway, aku ingin bertanya pada
orang yang juga menggunakan seragam, tapi agak aneh karena mereka sedang
membersihkan kaca halte, aku kembali mengurungkan untuk bertanya.
“Mau ke mana mba?” Tanya petugas
yang lain dengan seragam busway yang benar.
“Juanda” jawabku
Sang petugas langsung memintaku
untuk melanjutkan perjalanan dan transit di Harmoni. Oh my God, aku seperti
sedang menertawakan diri sendiri yang dari tadi bolak-balik Harmoni. Lagi-lagi
aku transit di Harmoni, aku melihat penumpang lain yang mungkin juga
kebingungan seperti ku yang tidak tau arah tujuannya dengan melihat peta, aku
pun ikut mendekati peta, tapi aku tidak bisa melihat karena tulisannya kecil
sekali seperti semut. Aku meninggalkan peta dan bertanya ke petugas yang sedang
duduk di meja kerjanya. Aku menemukan arah, ujung sebelah kanan pintu ke PGC,
busway ini yang mengantarkan aku ke Juanda.
Keluar dari halte Juanda aku
memasuki gerbang Istiqlal, aku membeli dua potong roti untuk mengganjal perutku
di pedagang kaki lima tidak jauh dari gerbang.
Hari ini aku menyempatkan solat
Zuhur di Istiqlal shaf pertama, Tuhan punya rencana yang lebih indah di balik
batalnya pertemuan magang terakhirku.
Kuningan, Jamsostek Gatot
Subroto, Lipi, Sentul City
25 Agustus 2015
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete